Dari Huawei ke BGI: Ancaman Baru ‘Raksasa DNA’ yang Bikin Washington Merinding
Glitik - Mundur satu dekade, nama Huawei nyaris tak dikenal oleh sebagian besar masyarakat Amerika Serikat. Kini, raksasa telekomunikasi itu menjadi contoh seberapa cepat China mampu menguasai sektor teknologi strategis. Kekhawatiran serupa kembali mencuat di Washington, kali ini bukan terkait menara seluler maupun smartphone, melainkan DNA. Tokohnya: BGI.
Senator Mark Warner, anggota senior Demokrat di Komite Intelijen Senat, memperingatkan bahwa BGI berpotensi menandingi bahkan melampaui Huawei dari sisi skala dan dampaknya. “Jika Huawei itu besar, maka BGI akan jauh lebih besar,” ujarnya.
BGI merupakan salah satu perusahaan genomika terbesar di dunia. Perusahaan tersebut mengoperasikan jaringan laboratorium pengurutan DNA di China dan berbagai negara lain, mengolah data genetik untuk rumah sakit, perusahaan farmasi, hingga peneliti internasional.
Berawal dari lembaga penelitian Beijing Genomics Institute yang terlibat dalam proyek genom nasional China, BGI kemudian berekspansi menjadi raksasa komersial global dengan layanan mulai dari tes pralahir, pemindaian kanker, hingga analisis genetik populasi berskala besar.
Melalui berbagai anak perusahaan, BGI kini beroperasi di AS, Eropa, hingga Jepang. Di sejumlah negara, perusahaan ini bahkan membantu membangun basis data genetik nasional serta sistem pengujian pandemi. Pejabat intelijen AS menilai jangkauan global ini memberi BGI akses ke salah satu kumpulan data genetik terbesar di dunia, data yang bukan hanya bernilai medis, tetapi juga strategis.
Dalam skala besar, data DNA dapat mengungkap asal-usul leluhur, ciri fisik, risiko penyakit, hingga hubungan kekerabatan. Jika dikombinasikan dengan kecerdasan buatan, data tersebut juga berpotensi dimanfaatkan untuk pengawasan, pelacakan, hingga penelitian biologis jangka panjang.
Warner mendesak pemerintah AS memberi perhatian lebih pada BGI. Menurutnya, aktivitas perusahaan tersebut dalam mengumpulkan DNA serta dugaan pencurian kekayaan intelektual harus menjadi alarm. Investigasi Kongres sebelumnya juga memperingatkan hubungan erat BGI dengan Partai Komunis dan militer China.
Ketakutan akan ‘Tentara Super’
Salah satu kekhawatiran terbesar muncul dari kemungkinan eksplorasi China terhadap peningkatan kemampuan biologis manusia, termasuk potensi menciptakan tentara yang ditingkatkan secara genetik. Pejabat AS menyebut Beijing telah meneliti teknologi peningkatan performa manusia untuk tujuan militer. “Itu mengerikan,” kata Warner.
Ia melihat kemiripan mencolok antara BGI dan Huawei. Huawei mengalahkan pesaing Barat dalam skala dan biaya, sebelum akhirnya dimasukkan ke daftar hitam perdagangan AS pada 2019 karena alasan keamanan nasional. Meski pembatasan chip semakin ketat, teknologi China tetap menjadi tulang punggung jaringan 5G di banyak negara.
Berkaca dari pengalaman tersebut, lembaga Foundation for Defense of Democracies mendesak para legislator AS untuk membatasi akses BGI ke institusi-institusi Amerika. Warner menilai aparat intelijen AS kembali bergerak terlalu lambat untuk mengantisipasi ancaman bioteknologi yang berkembang pesat.